Penggunaan istilah al ilhaad dalam Al-Qur’an: Al-Qur’an menggunakan
istilah ilhaad di banyak tempat, kadang berbentuk kosa kata yulhiduun
sebagaimana berikut: Dalam surat Al-A’raf:
وَلِلَّهِ
الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ
فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Hanya
milik Allah asma-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut
asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari
kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat
balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.
Dalam surat An Nahl 10:
Dalam surat An Nahl 10:
وَلَقَدْ
نَعْلَمُ أَنَّهُمْ يَقُولُونَ إِنَّمَا يُعَلِّمُهُ بَشَرٌ لِسَانُ
الَّذِي يُلْحِدُونَ إِلَيْهِ أَعْجَمِيٌّ وَهَذَا لِسَانٌ عَرَبِيٌّ
مُبِينٌ
Dan sesungguhnya Kami mengetahui bahwa mereka berkata,
“Sesungguhnya Al-Qur’an itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya
(Muhammad)”. Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa) Muhammad
belajar kepadanya bahasa `Ajam, sedang Al-Qur’an adalah dalam bahasa
Arab yang terang. Dalam surat Fushshilat:4:
إِنَّ
الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي ءَايَاتِنَا لَا يَخْفَوْنَ عَلَيْنَا أَفَمَنْ
يُلْقَى فِي النَّارِ خَيْرٌ أَمْ مَنْ يَأْتِي ءَامِنًا يَوْمَ
الْقِيَامَةِ اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
Sesungguhnya
orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Kami, mereka tidak tersembunyi
dari Kami. Maka apakah orang-orang yang dilemparkan ke dalam neraka
lebih baik ataukah orang-orang yang datang dengan aman sentosa pada hari
kiamat? Perbuatlah apa yang kamu kehendaki; sesungguhnya Dia Maha
Melihat apa yang kamu kerjakan.
Kadang berbentuk kosa kata ilhaad, Allah
berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَيَصُدُّونَ
عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ الَّذِي جَعَلْنَاهُ
لِلنَّاسِ سَوَاءً الْعَاكِفُ فِيهِ وَالْبَادِ وَمَنْ يُرِدْ فِيهِ
بِإِلْحَادٍ بِظُلْمٍ نُذِقْهُ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ
Sesungguhnya
orang-orang yang kafir dan menghalangi manusia dari jalan Allah dan
Masjidil haram yang telah Kami jadikan untuk semua manusia, baik yang
bermukim di situ maupun di padang pasir dan siapa yang bermaksud di
dalamnya melakukan kejahatan secara zhalim, niscaya akan Kami rasakan
kepadanya sebahagian siksa yang pedih (Al-Hajj:25)
Dan kadang berbentuk
kosa kata multahadaa Allah berfirman:
وَاتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنْ كِتَابِ رَبِّكَ لَا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِهِ وَلَنْ تَجِدَ مِنْ دُونِهِ مُلْتَحَدًا
Dan
bacakanlah apa yang diwahyukan kepadamu, yaitu kitab Tuhan-mu
(Al-Qur’an). Tidak ada (seorang pun) yang dapat mengubah
kalimat-kalimat-Nya. Dan kamu tidak akan dapat menemukan tempat
berlindung selain daripada-Nya (Al-Kahfi:27)
قُلْ إِنِّي لَنْ يُجِيرَنِي مِنَ اللَّهِ أَحَدٌ وَلَنْ أَجِدَ مِنْ دُونِهِ مُلْتَحَدًا
Katakanlah,
“Sesungguhnya aku sekali-kali tiada seorang pun yang dapat melindungiku
dari (azab) Allah dan sekali-kali tiada akan memperoleh tempat
berlindung selain daripada-Nya” Al-Jin:22).
Arti al ilhaad menurut para
ulama: Al-Farra’ mengatakan bahwa kata yulhiduun atau yalhaduun artinya
condong kepadanya. Imam Al-Harrani dari Ibn Sikkit mengatakan: al mulhid
artinya orang yang menyimpang dari kebenaran, dan memasukkan sesuatu
yang lain kepadanya.
Dalam Lisanul Arab dikatakan: al ilhaad artinya
menyimpang dari maksud yang sebenarnya. Meragukan Allah juga termasuk
ilhaad. Dikatakan juga bahwa setiap tindak kezhaliman dalam bahasa Arab
disebut ilhaad. Karenanya dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa monopoli
makanan di tanah haram itu termasul ilhad. Ketika dikatakan laa tulhid
fil hayaati itu artinya jangan kau menyimpang dari kebenaran selama
hidupmu.
Imam Ashfahani dalam bukunya mufradaat alfadhil Qur’an
mengatakan bahwa kata al ilhaad artinya menyimpang dari kebenaran. Dalam
hal ini –kata Al-Ashfahani- ada dua makna: Pertama, ilhad yang identik
dengan syirik, bila ini dilakukan maka otomatis seseorang menjadi kafir.
Kedua, ilhad yang mendekati syirik, ini tidak membuat seseorang menjadi
kafir, tetapi setidaknya telah mengurangi kemurnian tauhid nya.
Termasuk sikap ini apa yang digambarkan dalam firman Allah:
وَمَنْ يُرِدْ فِيهِ بِإِلْحَادٍ بِظُلْمٍ نُذِقْهُ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ
siapa
yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara zalim, niscaya
akan Kami rasakan kepadanya sebahagian siksa yang pedih
(Al-Hajj:25).Dalam menafsirkan ayat
وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ
(dan
tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam
(menyebut) nama-nama-Nya), Imam Al-Ashfahani menyebutkan bahwa ada dua
macam dalam ilhaad kepada nama-nama Allah: (a) menyifati Allah dengan
sifat-sifat yang tidak pantas disebut sebagai sifat Allah (b)
menafsirkan nama-nama Allah dengan makna yang tidak sesuai dengan
keagungannya (Lihat Mufradat Alfaadzul Qur’an h.737).
Komentar
Posting Komentar