Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا
يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا
نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ وَلَا
تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ بِئْسَ الِاسْمُ
الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ
الظَّالِمُونَ
Yang artinya, “Hai orang-orang yang
beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang
lain, boleh Jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan
jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh
Jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu
sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan.
Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman. Dan
barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang
zalim” (QS al Hujurat:11).
Allah memanggil kita dengan nama iman agar sebagian dari kita tidak mengejek sebagian yang lain. Yang melebihkan sebagian orang atas yang lainnya adalah Allah. Sehingga konsekuensi dari mengejek orang yang lebih rendah adalah mengejek taqdir Allah. Mencela, menghina, mengolok-olok, mengejek, merendahkan taqdir berarti merusak tauhid dalam qalbu.
Hal ini diisyaratkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits. Dari Abu Hurairah, Nabi bersabda, “Janganlah kalian mencela waktu karena Allahlah yang mengatur berjalannya waktu” (HR Muslim no 6003). Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah berfirman, “Manusia menyakitiku. Manusia mencaci waktu padahal aku adalah pengatur waktu. Akulah yang memperjalankan malam dan siang” (HR Bukhari no 4549 dan Muslim no 6000).
Mengapa kita ejek orang yang lebih rendah
dibandingkan kita dalam masalah ilmu agama, harta, akhlak, kondisi
fisik, status sosial, dan nasab? Bukankah di samping Allahlah yang
memberikan anugrah kepada kita, Dia juga yang menakdirkannya untuk
berada di bawah kita, dalam pandangan kita, dalam banyak hal?
Mengapa Allah melarang kita mengejek orang lain? Jawabannya adalah betapa banyak orang yang
pada saat ini mengejek orang lain, dalam lain kesempatan menjadi bahan
ejekan. Betapa banyak orang yang saat ini pada posisi ‘berada’, esok
hari berada pada posisi orang papa. Ini adalah suatu hal yang bisa kita
saksikan dalam realita.
عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ قَالَ قَالَ
رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ عَيَّرَ أَخَاهُ بِذَنْبٍ
لَمْ يَمُتْ حَتَّى يَعْمَلَهُ ». قَالَ أَحْمَدُ مِنْ ذَنْبٍ قَدْ تَابَ
مِنْهُ.
Dari Muadz bin Jabal, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa
saja yang mencela saudaranya sesama muslim karena sebab dosa yang
pernah dia lakukan maka orang yang mencela tersebut tidak akan mati
sampai melakukannya”. (Ibnul Jauzi dalam Mawdhu’at (3/277) mengatakan bahwa hadits ini tidak shahih. Ash Shoghoni dalam Mawdhu’at-nya (45) mengatakan bahwa hadits ini mawdhu’. Adz Dzahabi dalam Tartib Al Mawdhu’at (245) mengatakan bahwa dalam hadits ini terdapat Muhammad bin Al Hasan bin Abi Yazid dan ia perowi matruk).
Ahmad bin Mani’, salah seorang perawi hadits, “Yang dimasudkan adalah dosa yang pelakunya telah bertaubat darinya” (HR Tirmidzi no 2505).
عَنْ وَاثِلَةَ بْنِ الأَسْقَعِ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لاَ تُظْهِرِ الشَّمَاتَةَ
لأَخِيكَ فَيَرْحَمُهُ اللَّهُ وَيَبْتَلِيكَ .
Dari Watsilah bin al Asqa’, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah
engkau menampakkan rasa gembira saat saudaramu sesama muslim menderita
kesusahan. Hal itu menjadi sebab Allah menyayanginya dan menimpakan
cobaan pada dirimu” (HR Tirmidzi no 2506).
Dalam surat Al Hujurat, Allah Ta’ala memberikan kita petunjuk dalam berakhlak yang baik,
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ
يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ
خَيْرًا مِنْهُنَّ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang
laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan
itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan
merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih
baik.” (QS. Al Hujurat: 11)Ibnu Katsir rahimahullah berkata bahwa ayat di atas berisi larangan melecehkan dan meremehkan orang lain. Dan sifat melecehkan dan meremehkan termasuk dalam kategori sombong sebagaimana sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam,
الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
“Sombong adalah sikap menolak kebenaran dan meremehkan manusia.”
(HR. Muslim no. 91). Yang dimaksud di sini adalah meremehkan dan
menganggapnya kerdil. Meremehkan orang lain adalah suatu yang diharamkan
karena bisa jadi yang diremehkan lebih mulia di sisi Allah seperti yang
disebutkan dalam ayat di atas.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 6: 713).
Abu Jurayy Jabir bin Sulaim, ia berkata, “Aku melihat seorang
laki-laki yang perkataannya ditaati orang. Setiap kali ia berkata, pasti
diikuti oleh mereka. Aku bertanya, “Siapakah orang ini?” Mereka
menjawab, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Aku berkata,
“‘Alaikas salaam (bagimu keselamatan), wahai Rasulullah (ia mengulangnya
dua kali).” Beliau lalu berkata, “Janganlah engkau mengucapkan ‘alaikas
salaam (bagimu keselamatan) karena salam seperti itu adalah
penghormatan kepada orang mati. Yang baik diucapkan adalah assalamu
‘alaik (semoga keselamatan bagimu.”
Abu Jurayy bertanya, “Apakah engkau adalah utusan Allah?” Beliau
menjawab, “Aku adalah utusan Allah yang apabila engkau ditimpa
malapetaka, lalu engkau berdoa kepada Allah, maka Dia akan menghilangkan
kesulitan darimu. Apabila engkau ditimpa kekeringan selama satu tahun,
lantas engkau berdoa kepada Allah, maka Dia akan menumbuhkan
tumbuh-tumbuhan untukmu. Dan apabila engkau berada di suatu tempat yang
gersang lalu untamu hilang, kemudian engkau berdoa kepada Allah, maka
Dia akan mengembalikan unta tersebut untukmu.”
Abu Jurayy berkata lagi kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Berilah wasiat kepadaku.”
Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memberi wasiat,
لاَ تَسُبَّنَّ أَحَدًا
“Janganlah engkau menghina seorang pun.” Abu Jurayy berkata,
“Aku pun tidak pernah menghina seorang pun setelah itu, baik kepada
orang yang merdeka, seorang budak, seekor unta, maupun seekor domba.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan sabdanya,
وَلاَ
تَحْقِرَنَّ شَيْئًا مِنَ الْمَعْرُوفِ وَأَنْ تُكَلِّمَ أَخَاكَ وَأَنْتَ
مُنْبَسِطٌ إِلَيْهِ وَجْهُكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنَ الْمَعْرُوفِ وَارْفَعْ
إِزَارَكَ إِلَى نِصْفِ السَّاقِ فَإِنْ أَبَيْتَ فَإِلَى الْكَعْبَيْنِ
وَإِيَّاكَ وَإِسْبَالَ الإِزَارِ فَإِنَّهَا مِنَ الْمَخِيلَةِ وَإِنَّ
اللَّهَ لاَ يُحِبُّ الْمَخِيلَةَ وَإِنِ امْرُؤٌ شَتَمَكَ وَعَيَّرَكَ
بِمَا يَعْلَمُ فِيكَ فَلاَ تُعَيِّرْهُ بِمَا تَعْلَمُ فِيهِ فَإِنَّمَا
وَبَالُ ذَلِكَ عَلَيْهِ
“Janganlah meremehkan kebaikan sedikit pun walau dengan berbicara
kepada saudaramu dengan wajah yang tersenyum kepadanya. Amalan tersebut
adalah bagian dari kebajikan.
Tinggikanlah sarungmu sampai pertengahan betis. Jika enggan,
engkau bisa menurunkannya hingga mata kaki. Jauhilah memanjangkan kain
sarung hingga melewati mata kaki. Penampilan seperti itu adalah tanda
sombong dan Allah tidak menyukai kesombongan.
Jika ada seseorang yang menghinamu dan mempermalukanmu dengan
sesuatu yang ia ketahui ada padamu, maka janganlah engkau membalasnya
dengan sesuatu yang engkau ketahui ada padanya. Akibat buruk biarlah ia
yang menanggungnya.” (HR. Abu Daud no. 4084 dan Tirmidzi no. 2722).
Di antara wasiat Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits di
atas adalah janganlah menghina orang lain. Setelah Rasul menyampaikan
wasiat ini, Jabir bin Sulaim pun tidak pernah menghina seorang pun
sampai pun pada seorang budak dan seekor hewan.
(Brilly/majalahtauhidullah.blogspot.com)
Komentar
Posting Komentar